Kisah Ulama’

Kisah pertama yang saya upload adalah Kisah Sang Khalifah Islam, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis. Ada dua versi yang saya upload. Versi pertama dalam bentuk dokumen yang bisa didownload, yaitu sebagai berikut:

umar-bin-abdul-aziz

Versi kedua adalah dala bentuk tulisan web, silakan dinikmati bacaan yang Insya Alloh bermanfaat ini:

UMAR BIN ABDUL AZIZ
Peristiwa-Peristiwa Menakjubkan Dalam Hidupnya
“Umar Bin Abdul Aziz termasuk ahli ilmu di kalangan ulama’ amilin dan khulafa’urasyidin.” (Adz-Dzahabi)
Lembaran hidup khalifah yang ahli ibadah, zuhud, dan khalifah rasyidin yang kelima ini lebih harum dari aroma misk dan lebih asri dari taman bunga yang indah. Kisah hidup yang mengagumkan laksana taman yang harum semerbak, dimanapun anda singgah di dalamnya yang ada hanyalah suasana yang sejuk di hati, bunga-bunga yang elok dipandang mata dan buah-buahan yang lezat rasanya.
Meski kami tak sanggup memaparkan seluruh perjalanan hidup beliau yang tercatat dalam sejarah, namun tidak menghalangi kami untuk memetik setangkai bunga di dalamnya , atau mengambil sebagian cahayanya sebagai lentera. Karena “maa laa yudraku kulluhu laa yutraku ba’dhuhu”, apa yang tidak bisa diambil seluruhnya jangan ditinggalkan sebagian yang dapat diambil.
Saya mengajak anda untuk berbagi cerita tentang Umar bin Abdul Aziz dalam tiga peristiwa. Adapun peristiwa yang lain akan saya lanjutkan pada kitab yang selanjutnya jika Allah memberikan kemudahan insya Allah.

Kisah pertama yang mengesankan diriwayatkan oleh Salamah bin Dinar, seorang alim di Madinah, qadhi, dan syeikh penduduk madinah. Beliau menuturkan kisahnya:
“Suatu ketika aku menemui khalifah kaum muslimin Umar bin Abdul Aziz tatkala beliau di khunashirah, tempat pemerahan susu. Sudah lama saya tidak berjumpa dengan beliau. Saya mendapatkan beliau berada di depan pintu. Pertama kali memandang saya sudah tidak mengenali beliau lagi lantaran banyaknya perubahan fisik pada diri beliau dibandingkan dengan tatkala bertemu dengan saya di madinah. Saat beliau menjadi gubernur di sana. Beliau menyambut kedatanganku dengan berkata:
Umar : “Mendekatlah kepadaku wahai Abu Hazim!”
Aku : (Akupun mendekat), Bukankah anda Amirul mukminin Umar bin Abdul aziz?”
Umar : “Benar!”
Aku :”Apa yang menyebabkan anda berubah?! Bukankah wajah anda dahulu tampan?..kulit anda halus?hidup serba kecukupan?”
Umar :”Begitulah, aku memang telah berubah!”
Aku :”Lantas apa yang menyebabkan anda berubah padahal anda telah menguasai emas dan perak dan anda telah diangkat menjadi Amirul Mukminin?”
Umar :”Memangnya apa yang berubah pada diriku wahai Abu Hazim?”
Aku :”Tubuh yang begitu kurus dan kering, kulit anda yang menjadi kasar dan wajahmu yang menjadi pucat, bening kedua matamu yang telah redup..”
Tiba-tiba saja beliau menangis dan berkata,
Umar :”Bagaimana halnya jika engkau melihat setelah tiga hari aku didalam kubur, mungkin kedua mataku telah melorot di pipi…perutku telah terburai isinya…ulat-ulat tanah menggerogoti sekujur badanku dengan lahapnya. Sungguh jika engkau melihatku ketika itu wahai Abu Hazim, tentulah tak lebih mengenaliku lagi dari hari ini.. ingatkah anda tentang satu hadits yang pernah anda bacakan kepadaku sewaktu di madinah wahai Abu Hazim?”
Aku :”Saya telah menyampaikan banyak hadits wahai Amirul Mukminin, lantas hadits manakah yang anda maksud?”
Umar :”Yakni hadits yang diriwayatkan olen Abu Hurairah.”
Aku :”Benar, aku masih mengingatnya wahai Amirul Mukminin.”
Umar :”Ulangilah hadits itu untukku karena saya ingin mendengarnya dari anda”
Aku :”Saya telah mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya dihadapan kalian terhampar rintangan yang terjal, sangat berbahaya, tidak ada yang mampu melewatinya dengan selamat melainkan orang yang kuat”
Lalu menangislah Umar dengan tangisan ynag mengharukan, saya khawatir jika tangisan tersebut memecahkan hatinya. Kemudian beliau mengusap air matanya dan menoleh kepadaku seraya berkata: “Apakah anda sudi menegurku wahai Abu Hazim bila aku berleha-leha dalam mendaki rintangan yang terjal tersebut sehingga aku berhasil menempuhnya karena aku khawatir aku tidak berhasil.

Kisah kedua dalam kehidupan Umar, Ath-Thabari telah mengisahkan kepada kita dari Thufail bin Mirdaas. Beliau bercerita:
“Tatkala Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz diangkat beliau menulis surat untuk Sulaiman bim As-Sari, gubernur beliau di sughdi yang isinya :”Buatlah pondok-pondok di negerimu untuk menjamu kaum muslimin. Jika salah seorang dari mereka lewat, maka jamulah ia sehari semalam, perbaguslah keadaanya dan rawatlah kendaraanya. Jika ia mengeluhkan kesusahan, maka perintahkan pegawaimu untuk menjamunya selama dua hari dan bantulah ia dari kesusahanya. Jika ia tersesat jalan, tidak ada penolong baginya dan tidak ada kendaraan yang bisa beliau tunggangi, maka berikanlah kepadanya sesuatu yang menjadi kebutuhanya hingga ia bisa pulang ke tempat asalnya.”
Gubernur Sulaiman segera melakukan titah Amirul Mukminin. Dia membangun pondok-pondok sebagaimana yang diperintahkan Amirul Mukminin untuk disediakan bagi kaum muslimin. Lalu berita tersebut tersebar ke segala penjuru. Orang-orang dari belahan bumi islam di barat dan di timur ramai membicarakanya dan menyebut-nyebut keadilan dan ketaqwaan khalifah.
Hingga sampai berita itu pula kepada pendudukk Samarkand. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka mendatangi gubernur Sulaiman As-sari dan berkata:”Sesungguhnya pendahulu anda yang bernama Qutaibah bin Muslim Al-Bahili telah merampas negeri kami tanpa mendakwahi kami terlebih dahulu. Dia tidak sebagaimana yang kalian lakukan—wahai kaum muslimin—yakni menawarkan pilihan sebelum memerangi. Yang kami tahu, kalian menyeru kaum-kaum musuh islam agar mau masuk islam terlebih dahulu. Jika mereka menolak kalian menyuruh mereka untuk membayar jizyah, jika mereka menolak barulah kalian memberikan ultimatum perang.
Sekarang kami melihat keadilan khalifah anda dan ketaqwaanya. Sehingga kami berhasrat mengadukan perlakuan pasukan kalian kepada kami. Dan kami meminta tolong kepada kalian atas apa yang telah dilakukan salah seorang panglima perang kalian terhadap kami. Maka ijinkanlah wahai amir agar salah seorang dari kami melaporkan hal itu kepada khalifah anda dan untuk mengadukan kedzaliman yang telah kami rasakan. Jika kami memang memiliki hak untuk itu maka berikanlah kapada kami, namun jika tida kami akan pulang kembali ke asal kami.
Gubernur Sulaiman mengijinkan salah seorang dari mereka untuk menjadi duta untuk menemui khaliah di negeri Damaskus. Ketika utusan tersebut sampai di rumah khalifah dan mengadukan persoalan mereka kepada khalifah kaum muslimin Umar bin Abdul Aziz, maka khalifah menulis surat kepada gubernurnya As-sari yang antara lain berisi:
“Amma Ba’du..jika surat saya ini telah sampai kepada anda, maka tunjuklah seorang qadhi untuk penduduk Samarkand yang akan mempelajari aduan mereka. Jika qadhi itu memutuskan bahwa kebenaran di pihak mereka, maka perintahkan kepada seluruh kaum muslimin untuk meninggalkan kota mereka. Ajaklah kaum muslimin yang telah tinggal bersama mereka untuk segera kembali ke negeri mereka. Lalu pulihkanlah situasi seperti semula sebagaimana tatkala kita belum memasukinya. Yakni sebelum Qutaibah bin Muslim Al-Bahili masuk ke negeri mereka.
Sampailah utusan tersebut kepada Sulaiman lalu dia serahkan surat dari Amirul Mukminin kepada beliau. Gubernur segera menunjuk seorang qadhi terkemuka bernama “Juma’I bin Hadhir An-naaji”. Beliau segera mempelajari aduan mereka, beliau meminta agar mereka menceritakan hal ihwal mereka juga mendengar kesaksian dari beberapa saksi dari pasukan muslim dan pemuka penduduk Samarkand, maka sang qdhi membenarkan penduduk Samarkand dan pengadilan memenangkan pihak mereka.
Sejurus kemudian, gubernur memerintahkan kepada seluruh pasukan kaum muslimin untuk meninggalkan kota Samarkand dan kembali menempati markas-markas mereka. Namun tetap bersiap siaga berjihad pada kesempatan yang lain. Mungkin akan kembali memasuki negeri mereka dengan damai, atau akan mengalahkan mereka dengan peperangan, atau bisa jadi pula bukan taqdirnya untuk menaklukan mereka.
Taakala para pembesar Samarkand mendengar keputusan sang qadhi yang memenangkan urusan mereka, masing-masing saling berbisik satu sama lain: “Celaka..kalian telah hidup berdampingan dengan kaum muslimin dan tinggal bersama mereka, sedangkan kalian mengetahui kepribadian, keadilan, dan kejujuran mereka sebagaimana kalian lihat, mintalah agar mereka tetap tinggal bersama kita, bergaulah kepada mereka dengan baik, dan berbahagialah kalian tinggal bersama mereka.

Tinggalah peristiwa ketiga yang dialami oleh Umar bin Abdul Aziz. Kisah ini dituturkan oleh Ibnu Abdil Hakam kepada kita dalam kitabnya “Siirah Umar bin Abdul Aziz” (Perjalanan hidup Umar bin Abdul Aziz). Beliau berkata:
“Menjelang wafatnya Umar, masuklah Maslamah bin Abdul Malik dan berkata: “Wahai amirul mukminin sesungguhnya anda melarang anak-anak anda mendapatkan harta yang ada ini. Maka alangkah baiknya jika anda mewasiatkan kepadaku atau orang yang anda percayai dari keluarga anda untuk anak-anak anda.” Ketika dia telah selesai berbicara Umar berkata:”Tolong dudukkanlah saya!” Maka merekapun mendudukkan beliau, lalu beliau berkata: “Sungguh saya mendengar apa yang anda katakan wahai Maslamah, adapun perkataanmu bahwa saya menghalangi anak-anak saya untuk mendapatkan bagian harta, maka demi Allah aku tidak menghalangi sesuatu yang telah menjadi hak mereka. Namun saya tidak berani memberikan harta yang memang bukan hak mereka. Adapun yang kau katakan “alangkah baiknya jika anda mewasiatkan kepadaku atau orang yang anda percaya diantara keluarga anda untuk (menanggung) anak-anak anda”, maka sesungguhnya wasiatku untuk anak-anakku hanyalah Allah yang telah menurunkan Al-kitab dengan benar, Dia-lah yang melindungi orang-orang shalih. Ketahuilah wahai Maslamah bahwa anak-anakku hanyalah satu diantara dua kemungkinan, apakah dia seorang shalih dan beriman sehingga Allah mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Ataukah dia anak durhaka yang berkubang dengan maksiat, sedangkan sekali-kali saya tidak mau menjadi orang yang membantu mereka dengan harta untuk bermaksiat kepada Allah. “Setelah itu beliau berkata:”panggilah anak-anakku kemari!”
Maka dipanggilah anak-anak Amirul Mukminin yang berjumlah belasan anak. Begitu melihat mereka, meneteslah air mata beliau seraya berkata: “Aku tinggalkan mereka dalam keadaan miskin tak memiliki apa-apa.” Beliau menangis tanpa bersuara kemudian menoleh kearah mereka dan berkata: “Wahai anak-anakku, aku telah meninggalkan kepada kalian kebaikan yang banyak. Sesungguhnya ketika kalian melewati seorang muslim atau ahli dzimmah mereka melihat bahwa kalian memiliki hak atas mereka. Wahai anak-anakku sesungguhnya dihadapan kalian terpampang dua pilihan. Apakah kalian hidup berkecukupan namun ayahmu masuk neraka, ataukah kalian dalam keadaan fakir namun ayahmu masuk jannah. Saya percaya jika kalian lebih memilih jika ayah kalian selamat dari neraka daripada kalian hidup kaya raya.”
Beliau memperhatikan mereka dengan pandangan kasih sayang seraya berkata:” Berdirilah kalian semoga Allah menjaga kalian, berdirilah kalian semoga Allah melimpahkan rizki kepada kalian..” Lalu Maslamah menoleh kepada beliau dan berkata:
Maslamah : “saya memiliki sesuatu yang lebih baik dari itu wahai amirul mukminin!”
Umar :”apakah itu wahai Maslamah?”
Maslamah :”Saya memiliki 300.000 dinar… saya ingin menghadiahkan kepada anda lalu bagilah untuk mereka atau sedekahkanlah jika anda menghendaki.”
Umar :”Apakah engkau ingin yang lebih baik lagi dari usulmu itu wahai Maslamah?”
Maslamah :” Apakah itu wahai Amirul Mukminin?”
Umar :”Engkau kembalikan dari siapa barang tesebut diambil, karena kamu tidak memiliki hak atas barang tersebut.”
Maka meneteslah air mata Maslamah seraya berkata,
Maslamah :”Semoga Allah merahmati anda wahai Amirul Mukminin tatkala hidup ataupun sesudah meninggal…sungguh anda melunakkan hati yang keras diantara kami, mengingatkan yang lupa diantara kami, anda akan senantiasa menjadi peringatan diantara kami.”
Sejak peristiwa itu orang-orang mengikuti berita tentang anak-anak Umar sepeninggal beliau. Maka mereka melihat tak seorangpun diantara mereka yang hidup miskin dan meminta-minta. Sungguh benarlah firman Allah:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.” (QS :An-Nisa’ :9)

Maraji’: Jejak para Tabi’ien karya Dr.Abdurrahmn Ra’fat Basya, penerbit: pustaka At-Tibyan.

  1. request:
    al-alamah muhammad nashiruddin al-albany

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.