Arsip Kategori: tashfiyah wa tarbiyah
MUHASABATUN NUFUS (INTROSPEKSI DIRI)
Kesucian dan kebersihan jiwa tergantung pada muhasabahnya. Al Hasan Al Bashri berkata,
Sesungguhnya, orang mukmin itu -demi Allah- kamu tidak menyaksikannya, kecuali sedang mengawasi dirinya sendiri. Apa yang saya maksudkan dengan ucapan ini? Apa yang saya inginkan dengan makan ini? Apa yang saya inginkan dengan masuk ke sini atau keluar dari sini? Apa urusan saya dengan ini? Demi Allah, saya tidak kembali kesini? atau sejenis ucapan ini…” Maka dengan muhasabah seseorang itu bisa mengetahui aib dan kekurangannya, hingga ia mampu berusaha dalam memperbaikinya. 18 Read the rest of this entry
ten benefit
ONE: How can anyone who has common sense trade Paradise and what is in it for the pleasure of one hour?
TWO: When you fear the creation, you feel repelled by it and run away from it, but when you fear the Creator, you feel close to Him and run towards Him.
THREE: If knowledge without action were of benefit, why did Allaah condemn the scholars of the People of the Book? And if action without sincerity were of benefit, why did He condemn the hypocrites?
FOUR: Repel the thought, for if you don’t, it becomes an idea. So repel the idea, for if you don’t it will become a desire. So fight against that (desire), for if you don’t, it will become a determination and a passion And if you don’t repel that, it will become an action. And if you don’t replace it with its opposite, it will become a constant habit. So at that point, it will be difficult for you to change it.
FIVE: When a decreed matter occurs to Allaah’s a’bd (slave), which he dislikes, then he should have six perspectives about it
First: The Perspective of Tawheed: And that Allaah is the One who decreed it and willed it and created it. And whatever Allaah wills comes to pass, and whatever He doesn’t will doesn’t come to pass
Second: The Perspective of Fairness: And that He ruled this event to occur in the past and that there is fairness in His Divine ordainment.
Third: The Perspective of Mercy: And that the person’s mercy with regard to this thing that was decreed supercedes his anger and vengeance
Fourth: The Perspective of Wisdom: And that it was Allaah’s infinite Wisdom that brought that about. He did not decree it in vain nor did He divinely execute it for no purpose
Fifth: The Perspective of Praise: And that to Allaah belongs the complete and entire praise for that thing that was decreed from every angle of it.
Sixth: The Perspective of Worship to Allaah (‘Ubudiyyah): And that he is a pure worshipper of Allaah from every standpoint. His Master’s Rulings and Decrees occur to him by virtue of his being Allah’s possession and slave. So Allah administers him under His decreed rulings just as He administers him under His religious rulings. So it (i.e. the decreed event) becomes a place for these rulings to occur to him.
SIX: Little success (from Allaah), bad views, unawareness of the truth, corruption of the heart, laziness in making dhikr, wasting time, distaste for the creation, estrangement between the servant and his Lord, the prevention of the supplication from being answered, hardening of the heart, the termination of blessing from ones provision and lifespan, the prevention of knowledge, being covered in debasement, humiliation at the hands of the enemy, constricting of the chest, prolonged grief and sorrow, a wretched life of poverty, and a gloomy state of being are all produced from sins and neglecting to remember Allaah just as crops are produced from water and burning from fire. And the opposites of these things are produced from obedience to Allaah.
SEVEN: If your mind would free itself from the governorship of your desires, the state would return back to it.
EIGHT: You have entered into the abode of desires, so you have put your life at stake.
NINE: It was once to said to one devout worshipper of Allaah: “Until when will you continue to exhaust your soul?” So he responded: “It is its relaxation that I seek.”
TEN: The women of this world were made beautiful to those who can see in order to test which of them prefers them over the women of the Hereafter So whoever knows the extent of differences, he will choose what deserves to be chosen.

MUHASABATUN NUFUS (INTROSPEKSI DIRI)
Kesucian dan kebersihan jiwa tergantung pada muhasabahnya. Al Hasan Al Bashri berkata,
Sesungguhnya, orang mukmin itu -demi Allah- kamu tidak menyaksikannya, kecuali sedang mengawasi dirinya sendiri. Apa yang saya maksudkan dengan ucapan ini? Apa yang saya inginkan dengan makan ini? Apa yang saya inginkan dengan masuk ke sini atau keluar dari sini? Apa urusan saya dengan ini? Demi Allah, saya tidak kembali kesini? atau sejenis ucapan ini…” Maka dengan muhasabah seseorang itu bisa mengetahui aib dan kekurangannya, hingga ia mampu berusaha dalam memperbaikinya. 18
Muhasabah ada dua macam
1. Muhasabah sebelum beramal.
Yaitu berpikir dan merenung ketika ada kehendak dan semangat; dan tidak segera beramal, kecuali setelah menjadi jelas keutamaannya dibanding dengan meninggalkannya.
2. Muhasabah setelah selesai beramal.
Ini meliputi,
1. Muhasabah mengenai ketaatan yang belum dikerjakan secara sempurna.
2. Muhasabah mengenai perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan (tidak dikerjakan)
3. Muhasabah mengenai perkara mubah / biasa, mengapa mengerjakannya? Apakah hal itu dimaksudkan untuk Allah, kehidupan akhirat, ataukah dunia? 19
Sesungguhnya pemerhati masalah ini melihat adanya kelalaian dan banyak kekurangan pada diri kita dalam muhasabah an nufus. Bahkan banyak di antara kita yang sibuk dengan aib orang lain; suatu perbuatan yang melahirkan sikap ‘ujub (takjub dengan diri sendiri), kibr (merasa besar sendiri, sombong), dan ghurur (tertipu dengan diri sendiri).
Sebagian salaf berkata,
Engkau tidak akan menjadi faqih (orang yang mengerti) sebenar-benarnya sebelum kamu membenci (aib yang ada pada) manusia karena Allah, kemudian kamu merefleksikan pada dirimu sendiri, hingga kamu lebih membencinya. 20
Karena kelalaian kita dalam muhasabah an nufus ini sangat nampak, maka perlu kami sebutkan nukilan perkataan para ulama berikut ini.
Umar Al Faruq berkata,
Cukuplah dosa seseorang, apabila aib yang ada pada seseorang menjadi jelas baginya. Sementara ia tidak tahu, bahwa aib itu ada pada dirinya sendiri, dan ia membenci orang-orang karena itu. 21
Hasan Bashri (110H) berkata,
Wahai putra Adam, kamu tidak akan menggapai hakikat iman, sehingga kamu tidak mencela orang lain dengan aib yang juga ada pada dirimu, hingga kamu mulai mengobati aib tersebut dari dirimu.
Jika kamu sudah melakukan hal itu dalam dirimu, maka kamu tidaklah memperbaiki suatu aib, melainkan kamu mendapatkan aib lain yang belum kamu perbaiki. Jika kamu telah melakukan hal itu, maka kesibukanmu adalah mengurusi dirimu sendiri. Sesungguhnya hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah yang seperti itu. 22
Rabi’ Ibn Khutsaim (wafat sebelum tahun 65H) ditanya,
“Mengapa kamu tidak menyebut manusia?” Ia menjawab,
“Saya belum rela dengan seluruh yang ada pada diri saya, sehingga saya tidak punya waktu luang untuk menggunjing orang lain. Sesungguhnya manusia itu takut kepada Allah tentang dosa-dosa orang lain, sedangkan mereka tidak merasa takut atas dosa-dosanya sendiri. 23
Maimun Ibn Mihran (wafat 117H) berkata,
Seseorang tidak masuk golongan muttaqin, hingga ia mengevaluasi dirinya sendiri lebih detail daripada mengevaluasi mitra (sekutu) nya (dalam usaha), sehingga ia tahu dari mana makanannya, dari mana pakaiannya, dari mana minumannya, apakah dari halal ataukah haram. 24
Aun Ibn Abdillah (wafat 117H) berkata,
Saya kira, setiap orang yang sibuk dengan aib orang lain ialah dikarenakan ghaflah, lalai dari dirinya sendiri. 25
Bakr Ibn Abdillah (wafat 108H) Al Muzani berkata,
Jika kamu melihat seseorang sibuk mengurusi aib orang lain dan merupakan aibnya sendiri, maka pastikan bahwa ia telah tertipu. 26
Sariy As Saqathi (253H) berkata,
“Termasuk pertanda istidraj (diulur-ulur adzab untuknya), yaitu buta dari aibnya sendiri.” 27
Abu Utsman Al Hiri (wafat 298H) berkata,
Rasa takut dari Allah akan mengantarkanmu kepadaNya, sedangkan ‘ujub akan memutuskanmu kepadaNya, sedangkan menganggap manusia rendah dalam dirimu, merupakan penyakit yang tidak terobati. 28
Ahmad Ibnu Ashim Al Anthaki (wafat 230-an) berkata,
“Sikap shidq (jujur) yang paling bermanfaat, yaitu pengakuan kepada Allah tentang aib-aibmu.” Kemudian dia berkata, “Tutuplah jalan ‘ujub dengan mengenal dirimu.” 29
Demikian baris-baris hikmah ini, semoga Allah mensucikan diri kita, karena Dialah sebaik-baik yang mensucikan. Dialah pemiliknya dan Tuannya.
Catatan Kaki
…18
Madarij As Salikin 2/580. Lihat Jami’ Al Ulum Wal Hikam 2/91.
…19
Ighatsatul Lahfan 1 / 134, 135.
…20
Madarijus Salikin 1 / 438; Siyar A’lam An Nubala’ 4 / 539.
…21
Ibn Al Mubarak, Az Zuhd 234.
…22
Shifat Ash Shafwah 3 / 234.
…23
Ibid. 3 / 60. Lihat Imam Ahmad, Al Wara’ 74.
…24
Hilyah Al Awliya’ 4 / 89.
…25
Ibid. 4 / 249; Shifat Ash Shafwah 3 / 101.
…26
Shifat Ash Shafwah 3 / 249.
…27
Ibid. 2 / 376.
…28
Ibid. 4 / 105.
…29
Ibid. 4 / 277.
sumber : villa baitullah
14 contoh hikmah dalam berdakwah
- Mengiringi ’aqîdah yang benar dengan akhlâq yang mulia.
- Berwajah ceria, menebarkan salam dan menunaikan hak-hak kaum muslimin walaupun mereka memiliki penyimpangan –selama metode hajr (boikot) belum layak untuk diterapkan-.
- Mengenal medan dakwah yang akan diterjuni.
- Berdakwah secara bertahap, dari yang paling penting lalu melangkah ke hal-hal penting lainnya.
- Mengutip perkataan ulama ahlus sunnah yang dikenal dan dihormati masyarakat, dan menghindari penyebutan nama-nama ulama ahlus sunnah yang masyarakat fobi dengannya.
- Berdakwah dan beramar ma’ruf serta nahi munkar secara lemah lembut.
- Menarik simpati orang yang ditokohkan atau memiliki kedudukan di tengah masyarakat.
- Memperhatikan generasi muda dan anak kecil tanpa mengesampingkan orang-orang yang telah lanjut usia.
- Menerapkan skala prioritas dalam mengingkari kemungkaran.
- Melandasi bantahan terhadap ahli bid’ah dengan ilmu dan dalil bukannya dengan cercaan dan makian.
- Tidak harus menyebutkan nama tokoh atau kelompok yang menyimpang ketika mentahdzîr.
- Memenuhi permintaan ahli bid’ah untuk mengisi ceramah atau kajian di tempat mereka selama tidak menimbulkan fitnah dan diharapkan mendatangkan maslahat.
- Mengikuti kebiasaan masyarakat setempat selama tidak melanggar syariat, seperti tidak tampil beda di dalam berpakaian, memakai celana atau sarung tepat di atas mata kaki, tidak harus di tengah betis, memakai jilbab selain warna hitam, boleh mengimami sholat di dalam mihrab, membaca basmalah secara jelas ketika menjadi imam, mengangkat tangan dan mengamini qunut subuh, dll.
- Bersabar dan tidak terburu-buru berharap bisa segera memetik buah dari dakwah.
maroji’ :
Buku 14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah karya Ustadz Abdullah Zaen, Lc.
